Minuman kopi terkenal oleh penyukanya sebagai minuman bercita rasa yang khas dan harum wanginya. Bahkan dipercaya oleh banyak orang mempunyai manfaat bagi peminumnya. Oleh karena itu sekarang banyak orang yang tertarik dengan kopi, mulai mencoba minum kopi, sehingga sekarang telah menjamu kedai-kedai kopi mulai dari yang sederhana sampai yang coffee shop yang premium. Oleh karena itu saya tergerak untuk membuat artikel seri belajar tentang kopi. Artikel ini ditujukan untuk anda yang baru mengenal kopi dan ingin mengetahui filosofi kopi atau seluk beluk tentangnya.

Dalam seri belajar mengenal kopi kali ini, saya akan menulis (lihat sumber tulisan utama di bawah) tentang Sejarah kopi di dunia dan di Indonesia serta Peran Ekonomis kopi di Indonesia.

Belajar sejarah tentang kopi penting bagi pemula yang ingin mengenal seluk beluk kopi, selain belajar mengenal kopi melalui pengertian/istilah yang terkait dengan kopi. Oleh karena itu, saya masukkan dua informasi ini ke dalam tulisan seri belajar mengenal kopi.


Sekarang Kedai Kopi telah menjamur di berbagai daerah

===============================================

Daftar Isi: Sejarah Kopi



Tulisan ini saya mulai dari sejarah asal muasal kopi.

Asal mula kopi


Menurut salah satu sumber tertulis, kopi berasal dari jazirah Arab. Salah satu tandanya adalah istilah kopi itu sendiri dari bahasa Arab.

Bahasa Arabnya kopi adalah قَهْوَةٌ (qahwah). Kemudian diadopsi (diserap) oleh negara lain, misalnya:

- cafe (Perancis)

- caffe (Italia)

- kaffe (Jerman)

- coffee (Inggris)

- coffea (latin)

Namun, diantara pakar masih belum ada kesepakatan pendapat tentang daerah asal kopi.

Daerah asal kopi


Menurut Linnaeus (1753) melalui sebuah tulisannya berpendapat bahwa habitat kopi terletak di daerah subur Saudi Arabia. Oleh karena itu dia memberi nama tanaman kopi Coffea Arabica.

Lankester (1832) berpendapat bahwa Coffea arabica dibawa dari Persia ke Saudi arabia.

Southard (1918) berkesimpulan bahwa pada abad XI bangsa Arab yang membawa biji kopi dari Ethiopia yang disebut Harar.

De Condolle (1927) berpendapat bahwa kopi merupakan tanaman liar yang tumbuh di Ethiopia, Sudan, Mozambique, Guinea, dan Abyssiria.


Penyebaran kopi di Indonesia


Awalnya tumbuhan kopi dibawa oleh warga kebangsaan Belanda di abad ke-17. Ia membawa biji Arabika mocca dari Arab ke Batavia (sekarang namanya Jakarta).

Kopi Arabika tersebut awalnya ditanam dan dibudidayakan di wilayah timur Jatinegara, Jakarta di tanah partikelir Kesawung. Daerah ini sekarang dikenal dengan naman Pondok Kopi.

Dari tempat inilah tanaman kopi menyebar ke beberapa tempat di Indonesia, contohnya ke Gayo, Aceh Tengah.

Di Gayo ada bukti arkeologis berupa sisa pabrik pengeringan kopi masa kolonial Belanda. Tempatnya di Desa Wih Porak, Kecamatan Silih Nara, Aceh Tengah.


Peran Ekonomis Kopi di Indonesia


Telah dijelaskan di atas sejarah kopi sampai masuk ke Indonesia. Kopi ternyata mempunyai peranan ekonomis di Indonesia.

Sejak dikenalnya kopi Arabika yang dikenalkan oleh kaum kapitalis Belanda ke Batavia, tanaman kopi ini mengalami perkembangan pesat.

Kopi ini lalu tersebar ke beberapa daerah seperti Bogor, Sukabumi, Banten melalui sistem cultur stelsel (tanam paksa).

Dari sistem ini ternyata telah menghasilkan komoditi kopi yang besar. Berkembangnya tanaman kopi ini utamanya didukung oleh kondisi tanah dan iklim yang cocok.

Berkembang pesatnya tanaman kopi membuat area penanaman kopi meluas dan membawa produksi kopi sebanyak 94.400 ton pada tahun 1880-1884.

Nilai ekspor kopi rata-rata 25.965.000 gulden pada rentang waktu tahun 1865-1870, jauh di atas gula tebu yang hanya mencapai 8.416.000 gulden.

Pada rentang tahun 1910-1914 produksi mencapai titik terendah yaitu sekitar 35.400 ton. Hal ini dikarenakan berjangkitnya penyakit tanaman kopi, pes, serta budidaya tanaman kopi yang belum sempurna.

Namun peristiwa ini justru membuka peluang baru dengan munculnya varietas kopi baru yaitu Robusta yang lebih tahan penyakit dan mempunyai produktivitas lebih tinggi daripada Arabika.

Varietas kopi Robusta ini kemudian menyebar ke daerah Sumatera, yaitu Aceh, Sumatra Utara, Sumatera Selatan, dan Lampung.

Pada perkembangannya kopi Arabika menempati lahan-lahan pertanian yang lebih sempit pada ketinggian 900 sampai 1000 meter di atas permukaan laut, seperti Takengon (Aceh), Sidikalang, Mandailing, Lintongnihuta (Sumatera Utara), Besuki (Jawa Timur), Toraja (Sulawesi Selatan).

Pada perkembangannya pertumbuhan kopi varietas Robusta ini segera melampaui Arabika sehingga pada saat ini merupakan 90 persen dari total produksi kopi yang ada.


Masa Suram Produksi Kopi


Ketika Indonesia diduduki Jepang dan pasca perang dunia II, produksi kopi menurun tajam. Banyak koffie onderrneming (bisnis kopi) yang hancur akibat dampak peperangan. Ditambah lagi banyak petani beralih ke tanaman produksi.

Hal ini mengakibatkan hilangnya pasaran kopi Indonesia di pasaran internasional.


Sejarah dan Informasi Salah Satu Kebun Kopi di Indonesia Serta Peran Ekonomisnya di Daerah Tersebut: Gayo, Aceh


Dalam tulisan ini penulis mencontohkan sejarah tanaman kopi di Gayo dan peranan ekonomisnya untuk daerah tersebut khususnya dan Aceh pada umumnya.


Kopi Gayo dalam sejarah


Kita kembali ke masa pendudukan Belanda. Kehadiran Belanda telah memberi penghidupan baru dengan terbukanya lahan perkebunan yang salah satunya adalah kebun kopi di tanah Gayo (ketinggian 1000 - 1700 meter di atas permukaan laut).

Awalnya dibuka perkebunan kopi pertama yang luasnya sekitar 100 ha di tahun 1918. Tempatnya adalah di daerah Belang Gele. Sekarang Belang Gele termasuk wilayah kecamatan Bebesen, Aceh Tengah.

Sejak itulah di tahun 1920 muncul kampung baru di sekitar perkebunan kopi yang didiami oleh masyarakat Gayo.

Lalu pada tahun 1925-1930 dibukalah kebun-kebun kopi rakyat. Hasilnya terdapatlah empat kampung masyarakat baru yaitu kampung Belang Gele, Atu Gajah, Paya Sawi, dan Pantan Peseng.


gambar perkampungan penduduk disekitar kebun kopi daerah Gayo
Gambar : Perkampungan Masyarakat di sekitar perkebunan Kopi Gayo
Sumber gambar : Majalah Berkala Arkeologi Sangkhakala
Detilnya lihat di bawah tulisan ini.



Telah disinggung di atas bahwa ada bukti di bidang kepurbakalaan yang terkait dengan kopi di daerah ini. Bukti ini diperoleh dengan ditemukannya sisa pabrik pengeringan kopi di dekat Masjid Baitul Makmur, Desa Wih Porak, Aceh Tengah.


gambar sisa peninggalan pabrik kopi zaman belanda di Gayo Aceh
Gambar Peninggalan bangunan pabrik pengeringan kopi zaman Belanda di Gayo
Sumber gambar : Majalah Berkala Arkeologi Sangkhakala
Detilnya lihat di bawah tulisan ini.



Bekas pabrik pengeringan kopi menempati lahan 110 m x 60 m. Dan sebagian lahannya kini menjadi lahan Pesantren Terpadu Darul Uini.

Tampak dalam gambar bahwa pada lahan tersebut terdapat sisa bangunan seperti sisa pondasi bangunan, sisa tembok bangunan, bekas tempat kincir air, dan beberapa kolam tempat proses pengeringan kopi.


Pada tahun 1972, Kabupaten Aceh Tengah tercatat sebagai penghasil kopi terbesar dibandingkan kabupaten lainnya di Aceh.

Setelah ditandatanganinya perjanjian damai RI-GAM pada akhir tahun 2005, petani kopi mulai berani berbudidaya kopi yang letaknya jauh di lereng gunung. Harga jual kopi relatif stabil karena adanya jalur dagang antara Takengon-Bireun-Lhoksemauwe-Medan yang dapat dilalui kendaraan angkut besar.

Pada zaman kini, kopi gayo bukan hanya sekedar dikonsumsi oleh orang lokal Aceh, maupun orang Indonesia, tetapi kini sudah menjadi komoditas ekspor, dan menjadi tulang punggung perekonomian di Kabupaten Aceh Tengah.


Kopi Toraja


Setelah mengetahui sejarah kopi Gayo di Aceh, sekarang kita telusuri informasi tentang kopi di daerah Toraja, Sulawesi.

Daerah Toraja sangat cocok untuk tanaman kopi. Geografis daerah ini adalah pegunungan dengan kebun-kebun dan sawah yang terdapat di antara pegunungan tersebut.

Jadi, selain menggarap sawah, di lembah pegunungan ini, masyarakat Toraja juga berkebun, seperti kakao, cengkeh, dan kopi.

Ada dua varietas kopi yang tumbuh di sini yaitu Robusta dan Arabika.

Saat ini, komoditas ekspor unggulan selain kakao dan teh adalah kopi toraja.

Kementrian Pertanian saat ini sedang mengembangkan kopi Toraja karena sudah menjadi komoditas andalan yang berhasil menembus pasar internasional seperti Jepang, dan beberapa negara lain.

Saat ini pemerintah sedang mengangkat kopi toraja sebagai ikon wisata daerah. Diharapkan wisatawan tidak hanya tahu di Toraja itu terdapat upacara kematian Rambu solo saja, namun juga ada wisata kopi yang mengasyikkan. Hal ini memungkinkan karena pemandangan Toraja yang indah, dikelilingi oleh pegunungan dengan ketinggian 1700 mdpl sehingga cocok dengan wisata kopinya, yaitu memandang indahnya pegunungan sambil menikmati secangkir kopi toraja. (Sumber: Kopi sebagai ikon pariwisata Toraja)

Pemerintah terutama Pemerintah Daerah serius dalam program ini. Contonya saja pada tahun 2017 diadakan festival kopi Toraja yang menyedot perhatian wisatawan mancanegara. Tak hanya wisatawan lokal yang hadir, wisatawan mancanegarapun menyemarakkan acara ini.
(Sumber: Event Festival Kopi di Toraja)

Dari uraian di atas, nampaklah bahwa komoditas kopi mempunyai peranan ekonomis yang penting di daerah tersebut dan Indonesia pada umumnya.



Demikianlah uraian tentang asal muasal kopi menurut para ahli, sejarah sampainya tanaman kopi ke Indonesia sejak zaman kolonial Belanda, dan peranan ekonomis tanaman kopi pada masyarakat Indonesia, yang dicontohkan pada tulisan ini adalah daerah Gayo dan Toraja. Mudah-mudahan di artikel berikutnya saya bisa menulis tentang jenis jenis kopi nusantara lainnya, seperti kopi sidikalang, kopi lampung, dan kopi lainnya di nusantara.

Akhir Tulisan.

Baca juga artikel pendukung belajar mengenal kopi:

1. Proses Pengolahan Kopi Menjadi bubuk
2. Informasi Seputar Tanaman Kopi
3. Pengertian Kopi

==============================================================

Sumber Utama Tulisan Ini:

Majalah Berkala Arkeologi
Sangkhakala
Vol. X No.20, Juli 2007
ISSN 1410 - 3974
Departemen Kebudayaan & Pariwisata
Balai Arkeologi Medan

0 comments:

Post a Comment